Wakil Wali Kota Manado Sang Penjelajah

FOKUSMANADO.COM / Wakil Wali Kota Manado Harley Mangindaan 

MANADO, FOKUSMANADO.COM – Banjir yang hampir menenggelamkan ibukota Jakarta, tak menyurutkan niat tim dari Pemko Manado dibawah pimpinan langsung Wakil Wali Kota manado (Wawali) Harley AB Mangindaan,SE,MSM untuk melakukan kunjungan ke kota udang, Cirebon.

Dampak banjir yang membuat aktivitas Jakarta hampir lumpuh total membuat Wawali dan rombongan dengan terpaksa menunggu kereta yang datang dari Cirebon selama hampir 4 jam.

Jadwal yang molor membuat rombongan meninggalkan Jakarta baru pada pukul 15.00 WIB dengan menggunakan jasa Cirebon Express.Dalam perjalanan tersebut Wawali didampingi Kadis Parbud Peter Assa, Kadis Perindag Fanny Sirang dan Kadis Koperasi dan UKM Panarsor Pardede.

Sesuai rencana Pemko Manado dalam kunjungan di Cirebon untuk mengetahui proses pembuatan batik serta alatnya dan tenaga ahli pembuat batik.

“BI (Bank Indonesia) sebagai partner perkembangan Kaeng Manado, merekomendasikan Kabupaten Cirebon sebagai lokasi untuk memperkaya Kaeng Manado,”terang Wawali.

Mengenai rencana kerjasama dengan pengrajin batik asal Cirebon, sehingga SDM mereka bisa membina kelompok usaha di manado. Pihak BI sendiri diwakili  Samsul Bahri, Manajer unit pemberdayaan sektor rill dan UMKM Bank Indonesia,  Eko Siswantoro asisten direktur,  Adji Dwisatya staf UPSR BI Manado.

Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam dan menembus derasnya hujan yang tak hanya mengguyur Jakarta namun juga hampir semua daerah Jawa Barat  akhirnya rombongan tiba di Cirebon yang juga dijuluki Kota Wali dan terkenal akan udangnya.

Di cirebon, hujan rintik-rintik menyambut kedatangan wawali dan rombongan.iring-iringan pimpinan BI di cirebon juga dengan setia menunggu rombongan dari siang hari dan disambut langsung Bpk. Sjarifuddin Basara yang merupakan Kepala Perwakilan BI Cirebon.

Selanjutnya rombongan langsung dijamu di Hotel Santika Cirebon dan menikmati malam di Kota Wali tersebut sebelum bertolak ke kampung batik Trusmi Wetan yang hampir 90 persen warganya adalah pengrajin batik.konon nama Trusmi diambil saat masa Wali Gunung Jati yang memerintahkan para rakyat untuk merambah daerah tersebut yang pada masa tersebut sangat rindang dengan pepohonan sehingga seluruh pohon diperintahkan untuk ditebang.

Namun uniknya, setiap kali ditebang, pohon-pohon itu tetap bersemi. Sehingga lahirlah istilah Trusmi.Batik Yusri asuhan pak rahardjo menjadi tujuan analisis serta pengalian informasi mengenai industri batik.Dalam dialog yang dipimpin langsung oleh Wawali, tim pemkot manado banyak menerima masukan dari pak rahardjo yang juga didampingi oleh Kadis Perindag Kab. Cirebon, Drs. Hi.Haki, MSi.

“Di cirebon dikenal dengan batik motif mega mendung, dan metode pembuatan batik diolah melalui cara printing, cetak dan tulis.”Ujar Pak Rahardjo.

Dia pun mengurai mengenai alat-alat serta kebutuhan yang diperlukan untuk membuat sebuah industri batik.Menanggapi pernyataan sang pemilik usaha batik tersebut, wawali menanyakan bagaimana caranya untuk membina serta membentuk industri batik itu sendiri.bahkan wawalipun menawarkan untuk menjajaki kerjasama untuk melatih tenaga-tenaga SDM di Manado agar terampil dalam membatik sehingga dapat terbentuk sebuah kawasan di Manado nantinya yang semuanya adalah pengrajin batik atau kaeng Manado.

“Pemerintah Manado menjemput bola disini agar nantinya keahlian yang akan dilatih nantinya akan membawa dampak yang berarti untuk perekonomian dan kesejahteraan masyarakat manado.Yang pasti semuanya untuk kemakmuran masyarakat Kota Manado”ujar wawali.

“BI juga sangat mendukung rencana ini karena nantinya akan membuka lapangan kerja sehingga ekonomi rakyat meningkat”tutur  Eko Siswantoro,salah satu rombongan dari BI.

Sang Wawali Bogor juga tak segan-segan memuji koleganya, Harley Mangindaan yang datang jauh-jauh dari Manado hanya untuk mencari cara,daya dan upaya untuk memberdayakan dan mensejahterakan masyarakatnya.

“Di Bogor ini, industri batik tumbuh dengan sendirinya tanpa bantuan pemerintah.Salut untuk Pemerintah Manado yang lebih dulu tanggap dan inspiriatif dalam mencari peluang-peluang usaha bagi warganya.Tentunya tinggal masyarakat Manado yang mendukung serta menghargai kerja keras pemerintah kota dengan menyiapkan SDM yang berkualitas agar ilmu yang didapat nantinya jika ada kerjasama pelatihan bisa langsung direalisasikan dengan kemajuan Kualitas Batik atau kain Manado nantinya”ujar Ru’yat.

Wawali dan rombongan tampaknya tidak puas hanya dengan teori-teori semata.Pabrik Batik Tradisiku Bogor pun disambangi.setelah berdialog singkat dengan Siswaya, sang pemilik pabrik sekaligus pencetus batik bogor, Wawali melihat dari dekat proses membatik.melongok proses pembuatan batik tulis merupakan pengalaman langka.

Beberapa gadis berjejer dengan tekun memegang canting dengan dua sampai lima orang mengelilingi satu wajan berisi cairan malam/wax yang dipanaskan.

Setelah dicelupkan kedalam wajan, canting ditiup agar membran cairan terbuka, lalu canting digariskan ke kain yang bermotif kijang,kujang dan hujan yang menjadi trade mark batik Bogor.Tak ada canda tawa,semua serius,konsentrasi.hanyut dalam proses yang menuntut ketelitian ini.

Sungguh mengagumkan melihat kepiawaian tangan-tangan terampil ini.Wawali pun tergoda dan turut menyanting walaupun dengan sangat hati-hati hingga mengundang senyum para rombongan.

“untuk itu kita kesini,semuanya diawali melalui proses belajar,”canda Wawali
ketika cantingnya keluar dari jalur sehingga  ditimpali tawa para pekerja.

“Kaeng Manado akan jadi simbol baru perubahan kiblat batik jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ciri khas yang menggoda sehingga nantinya orang ke Manado rasanya hampa jika balik ke daerah asal tanpa membawa batik atau Kaeng Manado,”nasehat Siswaya.

“Tentunya diharapkan dukungan warga Manado agar program yang kita rencanakan ini tidak sia-sia karena semua hasilnya akan kembali dirasakan oleh kita semua”pungkas Wawali sekaligus mengakhiri perjalanan di pulau jawa membedah sejarah, produksi serta pengembangan batik nusantara yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan Non Bedawi (Masterpieces of the oral and Intangible Herritage of Humanity) pada 2 oktober 2009.

Oleh karena itu, Presiden SBY melalui Keppres No. 33 tahun 2009 ditetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.(nikson)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s